Senin, 03 November 2014

JANGAN KAU BENCI



Sebuah kisah nyata penulis, yang terjadi sejak kurang lebih tujuh tahun yang lalu saat penulis mulai mengenal sesuatu yang tidak disukai sesuatu yang ada di hidup ini. Kebencian melanda hingga sekarang dan pola yang dulu dialami pun terulang. Entah apa penyebabnya, tapi ini nyata.
Ketidak sukaanku berawal ketika tamat SD. Aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku di sekolah favorit di kabupatenku. Tentu, karena SD ku berada di desa. Setidaknya ingin merasakan sekolah di pusat keramaian. Aku pun tidak menginginkan sekolah di sebuah lembaga yang kurang favorit di kabupatenku.Aku mulai mengincar dua SMP idola di kabupatenku ini (mungkin yang berada sekabupaten denganku tahu). Aku pun sudah mengambil formulirnya. Sudah mengisi hingga menempel foto. Tapi, orang tuaku pun berubah pikiran, di hari terakhir pendaftaran, aku mendaftar bukan di SMP yang kuinginkan tadi, tetapi di SMP di kecamatanku. Kecewa pasti. Aku yang masih kecil pun tak mau berpikir panjang dan sekolah saja.
Begitu aku masuk SMP, aku mulai mengenal teman baru. Teman yang baik dan teman yang kurang baik. Aku pun mulai melihat kondisi dan menilai lingkungan. Ada seseorang yang sangat rajin organisasi. Entah kenapa, aku kurang suka dengannya. Mungkin karena terlalu aktif, sok-sokan, atau apa lah. Seiring berjalannya waktu, aku pun ikut organisasi. Sialnya, aku bersama orang yang tidak ku suka ini. Pertama dia pun baik kepadaku. Aku pun masih menyimpan ketidak sukaanku. Anehnya, sekarang dia menjadi sahabatku.
Begitu juga saat masuk SMA, aku hanya ingin masuk SMA biasa saja. Rasanya tidak ada keinginan untuk sekolah di kota lagi (takut tidak jadi seperti rencana dulu mungkin).  Aku pun tak menganggap penting nama sekolah, asal bisa lanjut kuliah. Aku pun berencana melanjutkan di SMA kecamatanku. Sudah mantap, tinggal daftar saja. Tapi, malah orang tuaku yang tidak setuju. Aku di daftarkan di sebuah SMA favorit di kabupatenku. Ada tes masuk juga, males kataku dalam hati. Tapi tak apa lah, membahagiakan orang tua. Aku pun menjalani tes susah payah. Aku merasa tidak bisa. Memang benar-benar sulit. Pesimis untuk bisa diterima. Entah kenapa saat pengumuman, aku diterima. Alhamdulillah, berkat restu orang tua mungkin.
Memasuki SMA, penyesuaian adalah hal biasa. Kaget juga dengan kehidupan kota. Biasa sekolah di desa :D. Perkenalan dan saling mengenal. Lagi-lagi membenci seseorang. Kasus yang sama, orangya rajin dan nilainya bagus. Iri pasti. Iri dalam hal kebaikan tidaklah dilarang. Saat melihat dia, rasa malas pun melanda. Anehnya, aku berjuang dengannya untuk mengharumkan nama sekolah dan dia menjadi teman baikku.
Bimbang rasanya saat lulus SMA, terutama memilih perguruan tinggi. Aku ingin menjadi wirausahawan dan tak ingin menjadi PNS. Aku ingin hidup tanpa aturan-aturan yang mengikat dalam bekerja dan bisa libur kapanpun ku mau. Bidikan perguruan tinggi mulai meruncing. Aku ingin merantau. Merasakan indahnya tanah rantau dengan kenangannya. Aku ingin melanjutkan di perguruan tinggi ternama di Jawa Barat. Dan keinginanku sudah bulat. Saat teman-temanku sibuk konsultasi mengenai perguruan tinggi, aku tenang-tenang saja. Keras kepala memang. Singkat cerita, aku pun tidak diterima di perguruan tinggi ini di jalur SNMPTN. Putus asa pasti, patah semangat tentu. Bangkit adalah hal yang terpenting. Aku mencoba jalur tertulis, mendaftar di universitas ternama di Jawa Tengah pada pilihan pertama dan universitas di dekat kotaku di pilihan kedua dan ketiga. Dasar pemalas, aku baru belajar 2 hari sebelum ujian. Tidak siap untuk ujian pasti. Hari ujian pun tiba, soal terasa sulit bagai mengejar matahari. Aku hanya mengerjakan kurang dari setengah dari jumlah total soal. Itupun 75% mengarang bebas menggunakan insting. Hal terbaik saat ujian adalah menjadi serigala. Dan saat pengumuman, aku diterima di pilihan kedua, di universitas di kotaku. Aku pun tak tahu kenapa diterima, padahal soal pun terasa seperti duri. Alhamdulillah. Tapi, aku tidak merantau apabila kuliah disini. Aku pun mencoba mendaftar kuliah yang pada saat itu masih buka. Sekolah yang mengatarkanku menjadi PNS (entah kerasukan apa saat itu). Mencoba mendaftar dan memilih jurusan yang sama sekali tidak ku kenal, hanya ikut teman saja. Aku meminjam buku ujian temanku. Sejak 2 bulan lau memang, tapi baru ku buka H-3 ujian. Aku pun merasa tidak siap, tapi jalani saja lah. Hari tes tertulis tiba. Aku merasa kesulitan dalam bahasa inggris dan TPA bagian sinonim antonym. Tak ada satupun yang ku tahu. Dengan insting serigala, 90% soal ku kerjakan walaupun tak tahu kebenaran pastinya :D. Dan Alhamdulillah lolos tahap ini. Tahap berikutnya adalah kebugaran kesehatan. Aku pun latihan lari hanya sekali menjelang tes ini. Merasa pesimis. Jalani saja. Dan Alhamdulillah lolos. Aku pun akhirnya memilih sekolah yang dulu tidak kusukai. Dan aku menikmatinya hingga saat ini.
Entah apa sebabnya, sesuatu yang kita benci selalu menjadi hal yang terbaik dalam hidup ini. Sesuatu yang tak pernah ku inginkan sebelumnya, selalu menjadi pelajaran berharga bagi hidup ini. Membenci sesuatu justru mendekatkan pada hal itu. Sekolah yang tidak diinginkan menjadi pengantar menuju kesuksesan. Seseorang yang dibenci menjadi teman yang memberi pelajaran hidup yang banyak. Terima kasih sekolahku dan temanku. Terima kasih telah memberi pelajaran mengenai indahnya hidup ini. Aku bangga menjadi bagian darimu. Aku ingin membahagiakanmu.


Ditulis di Bintaro, 4 November 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

MOMEN TAHUN BARU



Hidup merupakan karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita. Dengan hidup, kita bisa menikmati indahnya dunia. Menyelidiki hal-hal yang bersifat nyata di depan kita. Mempelajari hal baru untuk pengetahuan kita. Namun, kita hidup bukan hanya untuk duniawi saja, hidup adalah transisi untuk persiapan kehidupan kekal kita di akhirat nanti.
Beberapa hari kemarin, kita baru saja menginjak tahun baru, 1436 H. Sebuah tahun yang masih belum terlalu diketahui oleh umat muslim sendiri. Bahkan, tanggal-tanggal masehi lebih sering kita ingat daripada tanggal-tanggal hijriah kita. Miris apabila seorang muslim tidak tahu bulan-bulan dalam kalender hijriah. Dalam momentum tahun baru kali ini, mari kita kaji hal-hal yang dapat memperbaiki diri kita untuk menghadapi hari-hari mendatang.
Tahun baru hijriah saat ini masih belum familiar di kalangan umat muslim, remaja terutama. Saat tahun baru masehi, mereka akan berbondong-bondong merayakannya. Rela begadang demi bersenang-senang menunggu momen pergantian tahun. Mereka rela mengeluarkan uang mereka untuk foya-foya dalam penyambutan tahun baru. Konser-konser mulai diselenggarakan dari sore hingga pagi. Apakah sempat mereka salat maghrib dan salat isya dalam saat-saat yang menyenangkan dan saying untuk ditinggalkan? Setelah memasuki tahun yang baru, mereka masih bersama teman-teman menikmati hari pertama ditahun yang baru. Mereka baru sempat pulang saat menjelang fajar. Apakah mereka sempat untuk salat shubuh? Mereka begitu antusias dalam penyambutan tahun baru masehi.
Apa yang mereka lakukan ketika tahun baru hijriah? Kemana saja mereka? Tanggal 1 Muharram pun jarang mereka tahu. Seharusnya kita lebih prefer pada tahun hijriah daripada tahun masehi. Jika saat tahun baru masehi saja kita menghabiskan waktu yang banyak untuk merayakannya, tahun baru hijriah seharusnya lebih lagi. Waktu yang banyak untuk membaca Al-Qur’an yang jauh lebih bermanfaat daripada foya-foya yang lebih mudharat. Menyedekahkan rejeki yang telah kita peroleh setelah bekerja dalam setahun lalu.
Renungkanlah, sesungguhnya waktu kita untuk hidup itu berkurang. Jadikanlah momentum pergantian tahun ini sebagai sarana untuk refleksi dan instropeksi diri. Untuk apa waktu kita setahun kebelakang kita gunakan? Sudahkah waktu itu kita gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat? Sudahkah kita melangkahkan kaki kita pada jalan yang benar? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya muncul ketika kita menginjak tahun baru. Karena waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Tidak akan terulang kembali walaupun kita bayar dengan uang yang banyak. Ingatlah waktu senggangmu sebelum waktu sempitmu. Ingatlah ketika kita berada dalam waktu yang senggang, kerjakanlah hal-hal yang bermanfaat. Karena dalam waktu sempitmu, tidak akan leluasa dalam pengerjaan sesuatu.
Jadikanlah momentum tahun baru ini sebagai target pencapaian yang diinginkan. Membuat sebuah target adalah salah satu upaya agar kita tahu kemana arah kita kedepan nanti. Seseorang yang mempunyai target, hidupnya lebih terstruktur dan teratur. Buatlah target pencapaian yang positif, ingatlah target itu. Target yang ingin diraih sebagai pengingat ketika berada dalam keputus-asaan. Sebagai motivasi ketika kita menyerah dalam perjalanan meraihnya. Yakinlah bahwa Allah SWT telah menyiapkan sesuatu yang indah atas perjuangan kita. Kita tidak tahu pada saat menyerah, sejatinya hal yang ingin kita capai tinggal beberapa langkah lagi. Menyerah bukanlah solusi. Menyerah hanya akan membuat diri kita kecil. Menyerah hanya menunjukkan bahwa diri kita tidak mampu. Target adalah cambuk saat kita berleha-leha. Target adalah reminder ketika kita berada pada jalan yang salah. Buatlah target agar hidup kita lebih terarah. Apa jadinya anak panah bila tidak ada sasaran?

Semoga kita selalu dibimbing untuk selalu pada jalan yang benar. Semoga apa yang kita harapkan pada tahun yang baru ini bisa tercapai. Aamiin.

Bintaro, 31 Oktober 2014, 7
Muharram 1436H
 
 
Copyright © 2013 fatschur-benz - All Rights Reserved
Design By Fathur Rahman Nur Aziz - Powered By Blogger