Hidup merupakan
karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita. Dengan hidup, kita bisa
menikmati indahnya dunia. Menyelidiki hal-hal yang bersifat nyata di depan
kita. Mempelajari hal baru untuk pengetahuan kita. Namun, kita hidup bukan
hanya untuk duniawi saja, hidup adalah transisi untuk persiapan kehidupan kekal
kita di akhirat nanti.
Beberapa hari
kemarin, kita baru saja menginjak tahun baru, 1436 H. Sebuah tahun yang masih belum
terlalu diketahui oleh umat muslim sendiri. Bahkan, tanggal-tanggal masehi
lebih sering kita ingat daripada tanggal-tanggal hijriah kita. Miris apabila
seorang muslim tidak tahu bulan-bulan dalam kalender hijriah. Dalam momentum
tahun baru kali ini, mari kita kaji hal-hal yang dapat memperbaiki diri kita
untuk menghadapi hari-hari mendatang.
Tahun baru
hijriah saat ini masih belum familiar di kalangan umat muslim, remaja terutama.
Saat tahun baru masehi, mereka akan berbondong-bondong merayakannya. Rela
begadang demi bersenang-senang menunggu momen pergantian tahun. Mereka rela
mengeluarkan uang mereka untuk foya-foya dalam penyambutan tahun baru.
Konser-konser mulai diselenggarakan dari sore hingga pagi. Apakah sempat mereka
salat maghrib dan salat isya dalam saat-saat yang menyenangkan dan saying untuk
ditinggalkan? Setelah memasuki tahun yang baru, mereka masih bersama
teman-teman menikmati hari pertama ditahun yang baru. Mereka baru sempat pulang
saat menjelang fajar. Apakah mereka sempat untuk salat shubuh? Mereka begitu
antusias dalam penyambutan tahun baru masehi.
Apa yang mereka
lakukan ketika tahun baru hijriah? Kemana saja mereka? Tanggal 1 Muharram pun
jarang mereka tahu. Seharusnya kita lebih prefer
pada tahun hijriah daripada tahun masehi. Jika saat tahun baru masehi saja kita
menghabiskan waktu yang banyak untuk merayakannya, tahun baru hijriah
seharusnya lebih lagi. Waktu yang banyak untuk membaca Al-Qur’an yang jauh
lebih bermanfaat daripada foya-foya yang lebih mudharat. Menyedekahkan rejeki
yang telah kita peroleh setelah bekerja dalam setahun lalu.
Renungkanlah,
sesungguhnya waktu kita untuk hidup itu berkurang. Jadikanlah momentum
pergantian tahun ini sebagai sarana untuk refleksi dan instropeksi diri. Untuk
apa waktu kita setahun kebelakang kita gunakan? Sudahkah waktu itu kita gunakan
untuk hal yang lebih bermanfaat? Sudahkah kita melangkahkan kaki kita pada
jalan yang benar? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya muncul
ketika kita menginjak tahun baru. Karena waktu adalah sesuatu yang paling
berharga. Tidak akan terulang kembali walaupun kita bayar dengan uang yang
banyak. Ingatlah waktu senggangmu sebelum waktu sempitmu. Ingatlah ketika kita
berada dalam waktu yang senggang, kerjakanlah hal-hal yang bermanfaat. Karena
dalam waktu sempitmu, tidak akan leluasa dalam pengerjaan sesuatu.
Jadikanlah
momentum tahun baru ini sebagai target pencapaian yang diinginkan. Membuat
sebuah target adalah salah satu upaya agar kita tahu kemana arah kita kedepan
nanti. Seseorang yang mempunyai target, hidupnya lebih terstruktur dan teratur.
Buatlah target pencapaian yang positif, ingatlah target itu. Target yang ingin
diraih sebagai pengingat ketika berada dalam keputus-asaan. Sebagai motivasi
ketika kita menyerah dalam perjalanan meraihnya. Yakinlah bahwa Allah SWT telah
menyiapkan sesuatu yang indah atas perjuangan kita. Kita tidak tahu pada saat
menyerah, sejatinya hal yang ingin kita capai tinggal beberapa langkah lagi. Menyerah
bukanlah solusi. Menyerah hanya akan membuat diri kita kecil. Menyerah hanya
menunjukkan bahwa diri kita tidak mampu. Target adalah cambuk saat kita
berleha-leha. Target adalah reminder
ketika kita berada pada jalan yang salah. Buatlah target agar hidup kita lebih
terarah. Apa jadinya anak panah bila tidak ada sasaran?
Semoga kita
selalu dibimbing untuk selalu pada jalan yang benar. Semoga apa yang kita
harapkan pada tahun yang baru ini bisa tercapai. Aamiin.
Bintaro, 31 Oktober 2014, 7
Muharram 1436H.jpg)